Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Tuesday, February 23, 2016

Takut Ketemu Jodoh

Takut ketemu jodoh? lah orang-orang justru ngebet pengen ketemu jodoh, apa ada orang yang takut ketemu jodoh? Becanda nih.. :|


Sebelum memulai tulisan ini kita definisikan "Takut" dengan artian "Belum berani", kemudian bergeser lagi maknanya menjadi "Belum siap". Seperti hal nya kebanyakan manusia takut mati, yang sebenarnya bukanlah "takut" semata-mata bermakna seperti rasa takut kepada Allah Swt. namun takut disini berarti takut saat mati, masih bergelimang dosa dan persiapan amal sangat sedikit. Setiap makhluk pasti akan mati, yang harus kita lakukan adalah bersiap kapan pun sewaktu-waktu ia menghampiri. Begitu pula setiap orang pasti ada jodohnya masing-masing, kelanjutannya? Yes, bersiap sewaktu-waktu jodoh menghampiri di depan pintu rumah :p

Ketika ngomong masalah jodoh, baik dalam sebuah kajian mau pun ngobrol ringan bersama teman, pasti ada hal menggelitik dalam hati, siapa sih jodoh gue ntar? gimana deh orangnya? ketemuannya di dunia apa di akhirat? Memasuki usia 20 an itu masa masa dimana sedang intens nya ngomongin jodoh dan NIKAH. Entah kenapa dijaman sekarang yang namanya JODOH dan NIKAH itu sensitip banget untuk anak 20an. Bukan sensitif langsung bete atau kzl gitu ya (itu bisa juga sih), tapi lebih ke arah "ih gue jadi kepengen cepet nikah". Masalah perjodohan dan pernikahan ini sebenarnya udah dibahas dan diobrolin berpuluh kali sejak jaman udah bau-bau mau lulus kuliah (mihiw) sampe udah jebol dari universitas pun ga pernah ada habisnya kalo udah nyangkut tentang jodoh. Mau awalnya ngobrol serius atau sekedar chit chat, ujung-ujungnya nyerempet aja tema jodoh di antara kita (fakta berbicara).
Apa teman-teman pernah mengalami suatu masa dimana menggebu-gebu minta sama Allah pengen segera dipertemukan dengan jodoh? mungkin pernah. Ada saat tertentu dimana saya atau teman-teman di luar sana yang "iri" dengan teman sejawat, keluarga, atau siapa pun yang menikah, menemukan pendamping hidupnya yang sudah dikirim Allah. Namun ada pula secercah rasa (cie) dimana saya atau mungkin juga teman-teman takut untuk bertemu dengan seseorang itu nantinya, merasa belum siap, takut kelak tak mampu menjalankan kewajiban yang sesungguhnya, merasa terlalu dini untuk memulai sebuah kehidupan baru yang konon katanya berbanding terbalik dengan kehidupan di masa lajang. Memang pada intinya segala sesuatu yang terjadi tanpa persiapan banyak menimbulkan kekhawatiran tersendiri, bahkan untuk ujian tiga hari saja kita butuh persiapan berbulan-bulan, bagaimana dengan persiapan kehidupan baru itu yang ditujukan hingga akhir hayat? 

Kemudian semua orang pasti minta jodoh yang : baik, taat agama, mampu menerima kelebihan berat badan dan kekurangan masing-masing, tambahan bonus ganteng/cantik, tinggi, putih, dan sebagainya. Pada intinya pasti kita semua berharap pendamping kita adalah orang yang baik (secara general dan khusus). Untuk kita semua yang berharap,
Siapkah kau untuk menjadi seorang pendamping? 

Siapkah kau untuk menjadi seorang pendamping dia yang disayangi oleh banyak orang?
Siapkah kau untuk menjadi seorang pendamping dia yang waktunya tidak hanya untuk dirimu saja?
Mencintai orang baik berarti memahami bahwa dihatinya bukan hanya ada kita saja, hatinya memiliki banyak ruang untuk mengasihi banyak orang, waktunya dibagi kepada banyak orang yang membutuhkan, dan akhirnya digunakan untuk memikirkan banyak orang.
(dikutip dari Urfa Qurrota Ainy melalui akun dakwah di media sosial) 

Simple nya, menjalani kehidupan di dunia dengan pendamping hidup bukanlah perkara romantisme saja. Tujuannya nikah biar ada yang perhatiin, yang nemanin pergi kemana-mana, dan segala hal keromantisan yang sering kita lihat di media yang membutakan mata dan hati para cewek untuk diromantisin selalu. Tapi lebih dari itu, adalah mendapat ketentraman hati dan jiwa yang satu tujuan mencari kerida'an Allah, perjuangan mengarungi hidup, dan kesabaran dalam menghadapi ujian.

Bila dalam hidup berkeluarga kecil di rumah masih belum mampu mengelola hati menghadapi konfik fisik mau pun batin, bagaimana kelak hidup bersama orang yang belum kenal kita sejak dulu?bukankah potensi adanya konflik dikemudian hari lebih besar bila tak didasari dengan pondasi ilmu dan keimanan. 
Bila sehari-hari kita merasa pesimis dan malas dalam belajar mau pun berusaha, bagaimana kelak kita mendidik dan mengasuh anak-anak serta mengurus keperluan dan segala isi rumah? karena tugas para orang tua lah untuk mendidik dan memfasilitasi anak, sebagaimana nanti akan dipertanggungjawabkan di hari akhir.
Bila sehari-hari kita tak peka dan bersyukur dengan nikmatnya hidup saat ini serta sering galau dan bimbang dengan masalah pribadi yang kecil, bagaimana kelak kita akan menemukan kebahagiaan dan menghadapi masalah yang lebih beragam. 

Tanya pada diri kita, bicara pada hati, bila tak menemukan jawabannya, tanyalah Sang Pemiliknya, sudah sampai dimanakah diri ini? 

Saya ingin pendamping yang baik, sudahkan diri ini memperbaiki diri? 
Saya ingin pendamping yang selalu sayang dan perhatian sama saya? sudahkan diri ini mencurahkan kasih sayang kepada anggota keluarga dan orang-orang sekitar yang membutuhkan? 
Saya ingin pendamping yang soleh dan taat beragama, sudahkan diri ini memperbaiki ibadah dan mengistiqomahkannya? 
Saya ingin pendamping yang mampu menerima kekurangan saya dan memahami saya, sudahkah diri ini mampu mengendalikan ego dan menerima keadaan saat ini?
Saya ingin pendamping yang tahu kewajibannya sebagai suami yaitu memuliakan istri, sudahkah diri ini belajar dan mengerti kewajiban seorang istri yang mengedepankan keperluan suami dan anak dibandingkan keperluan pribadinya?

Sekiranya diri ini belum siap dan takut untuk bertemu jodohnya, mohonlah pada pemilik jiwa dan raga untuk selalu membimbing dalam prosesnya, menguatkan hati dan memantapkan jiwa. Kelak akan tiba saat dimana segala doa yang telah dipanjatkan serta ikhtiar yang telah ditunaikan akan dibalas dengan indah oleh Allah swt. dengan hadirnya seseorang yang tepat, disaat hati, pikiran, dan jiwa telah sinkron dalam sebuah keyakinan, maka jalan akan terbuka untuk menapakkan kaki melengkapi separuh agama, menjalankan bahtera menuju tujuan akhir dalam hidup, Jannah Nya. 



Jadi, udah berani belum ketemu jodoh?

:)



Tuesday, July 28, 2015

Perjalanan Spiritual

Assalamualaikum..

Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Taqabbal ya Qarim..
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah, Mohon maaf lahir dan batin..

Kalau ditilik mundur, sudah banyak moment-moment berlalu, mundur deh dari bulan puasa, wisudaan, jalan-jalan ga jelas ngabisin duit dengan dalih ambil seperangkat toga, mundur lagi, masuk ke bulan April, perjalanan spiritual yang udah ketebak lah ya, Umroh..

Alhamdulillah, Allah sudah beri kesempatan. Kalau istilah orang awam, Allah sudah memanggil kita untuk jadi tamu Nya di Baitullah. Alhamdulillah sekali, setelah lebih kurang setahun berhijrah, Allah begitu Maha Kuasa, panggil saya ke Tanah Suci. Perasaannya gimana? lebih kurang awal-awal sebelum pergi, ya percis kayak mau ke Korea, yah masih antara percaya ga percaya. Maklum lah jarang ke luar negeri. :(

Kami berangkat pada tanggal 2 April 2015. Bersama mama, abah, dan nenek, dengan travel yang sudah pernah dicoba ortu, di mana rombongan yang dibawa kurang dari 20 orang saja.

Jema'ah ID Card 


Perasaannya saat mau berangkat gimana? ya seneng banget, sekaligus banyak-banyak ngucap tobat, biar selamat sampai tujuan.
Boading pada pukul 2 siang waktu Jakarta, melalui lebih kurang 9 jam perjalanan dalam pesawat tanpa transit, sampai pada pukul 7.30 malam, waktu Jeddah.

Di perjalanan sibuk foto-fotoin awan yang Masyaallah cantiknya

Langit biru nya :3

Udah senja-senja cantik, mau magrib dan sudah masuk beda rentang waktu dengan Indonesia

Penampakan Negeri Arab malam hari, Masyaallah terang benderangnya negeri minyak.

Alhamdulillah sampai, tapi berhubung pesawat yang dipakai parkirnya di terminal haji, jadi ya sepi dan jauh jalannya.

Terminal Haji, King Abdul Aziz, Jeddah

Setelah menunggu kurang lebih 3 jam, mengurus barang dan lain-lain, barulah kami bersama rombongan menuju bus kami untuk segera ke Madinah. Pengalaman pertama melihat jalanan kota Jeddah di malam hari, kalau tidak salah pukul 9 malam. Jalanannya luas, mobil yang berseliweran yah kece-kece gitu. Shocking moment adalah sempat melihat 2 mobil crash tabrakan depan mata dan nge drift dua-dua nya. Luar biasak.


Tengah malam sekitar jam 12, ternyata dibeliin makan, yaitu semacam KFC nya Arab, ayam Albaik. Superrrrrrrr. lupa difoto ayamnya, saking laparnya dan keenakan, LOL.
Isinya 1 potong ayam gedee, pake roti, sayangnya ga ada saos sambel, cuma saos tomat dan saos bawang putih. Tapi karena ayamnya udah berbumbu kuat, jadi enak aja. Ya Allah semoga bisa ngerasain lagi. 

Sampai di Madinah pas adzan subuh, dan pagi nya baru ke Nabawi.

Akhirnya melihat langsung payung-payung yang indah ini







jalanan kota, sukaaa bangettt. Langit Madinah masih biru. 





Hari Sabtu nya ke Mesjid Quba

Bersama rombongan Maknah Tour, sekitar 12 orang.

Masih Mesjid Quba. Indah ya...:')

Raudhah, sekitar taman syurga. Semoga semua umat Muslim bisa kemari. Saya juga pengen lagi kemari, ga akan puas.



pengen ini lagi loh, pizza hut nya Arab

Makanan Arab emang super banget Masyaallah deh. Meski beberapa ga cocok di lidah, seperti buah zaitun kalau dimakan langsung, beberapa sauce yang entah terbuat dari apa, tapi beberapa banyak juga yang enak (tapi tinggi lemak) semacam kebab, martabak arab, ayam al baik :(


Ini penampakan gedung di Jeddah yang sebenarnya banyak dan mewah-mewah. 
Perbedaan Jeddah dan Tanah suci kerasaa banget. Jeddah lebih metropolis dan gedung dimana-mana. Tapi ga se crowded ibukota kite. Jarak gedung ke gedung ga begitu rapat dan jalanannya lapang mulus sekaleh.



Perjalanan rasanya ga mau berakhir. Beruntunglah orang-orang yang tinggal di Mekah atau pun Madinah, dimana tempat yang sudah dijamin Allah keamanannya, diharamkan segala maksiat, dan hidup kita cuma fokus untuk ibadah. Indahnya dimana saat adzan tiba, toko-toko ditutup, orang-orang berjalan ke mesjid. Sedikit pun keinginan untuk maksiat ga ada, karena Allah akan tegur langsung.
Wanita-wanita semua menutup tubuhnya, ga ada tuh yang sok cantik pamer aurat, lah mereka aslinya jauh jauh lebih cantik. Pernah tuh waktu mau pulang di Jeddah, pemeriksaan passengers pake scan, karena bagian cewek dan cowok dipisah, jadilah yang meriksa kami adalah cewek arab dan salah satunya lepas jubah dan hijab mereka. Masyaallah, badannya kayak model, kita mah cuma kayak biji apel (re: biji apel) -___- Nah gitu. 

Untuk sifat dan karakter, ya seperti pada umumnya orang-orang di luar Asia, khususnya Indonesia. Mereka tegas, tidak bisa dibilang ramah, dan seradak-seruduk sana sini kalau jalan, sering tuh kepala lu keinjek pas lagi sujud (nah ini banget). Wajar aja sih, disono manusia berjuta-juta kalau mau jalan sopan ya bisa kejepit atau minimal kesenggol badan mereka yang lebih gede dari kita. Tapi, kalau mereka memang salah, apalagi nyenggol orang tua, mereka minta maaf benar-benar dengan menaruh tangan di dada dan membungkuk tanda hormat sambil bilang maaf. Ini kasusnya cewek loh ya,, kalo cowok ga tau gimana. Tapi bukannya mereka ga ramah, sekali lagi kendalanya adalah bahasa. Kebanyakan mereka tidak begitu fasih bahasa inggris juga. Mereka harus tegas untuk mengatur jutaan manusia setiap waktu, biar bisa dengan nyaman beribadah disana.

Meski pun begitu, semua juga bakal pengen balik lagi ke sana. Semoga seluruh umat muslim yang ingin pergi umroh atau haji bisa disegerakan dan dilancarkan perjalanannya, Aamiin...

Wednesday, September 4, 2013

First Love


This writing is made cause now I have a spare time that I don't know whether later on I will have time to write this, or perhaps I will forget and not write at all.

I may not a romantic person, who can express I love you, I need you, every time, to every one I want and I love. I personally never say honey, darling, and bla bla, kiss or hug someone tightly to show them that I love them. I indeed not that kind of person. However, I can't hold myself to write this, since I think I better express it with words, here, more comfortable, with the way I am.

If I could tell "Father is every woman's first love" yes, indeed according to my opinion. What if sorry to say, something happen to them or their father which is create any 'hate effect' but well, your father is still your first love, no doubt.

Who is gonna worry that much even though never tell it out loud?
Who else gonna leave some events just to accompany you going somewhere?
Who else gonna buy you something you want, even you just state it once with not serious way?
Who else the one who bring you go out every day when you feel bored at home?
Who else the one who'll ask you where you going, with who, and by what?
Who else the one who'll get jealous inside when there's boy friends play at home?
Who else the one hit you when you crying at the past because he wants you to be a strong girl, not weak and always wanna buy every things?
Who else the one who you get awkward with when you're grow up?
Who else the one who you gonna hug but you feel ashamed since you become a beautiful lady, not children anymore?
Who else the one who can hold tears very well?
Who else the one who'll pretend to not see when you're crying?
Who else the one who you gonna spend time with, going around the city at night, feeling safe without any worries?
Who else the one who buy you a lot of food while you feel full already or you're on your diet?
Who else the one who gonna protect you so hard till the time when you're taken by someone in the future?
Who else the one who gonna feel don't wanna let you taken by your soul mate, but still let you go for your happiness and try to believe that man?
Who else the one who gonna do everything, even let you go with your soul mate, to see your bright smile besides your first love?

Who else?


Nobody......





But Daddy did....




Tuesday, July 9, 2013

What I've Learned

Ketika kamu berfikir lebih baik dari orang lain karena kamu hebat dalam satu hal, seketika itu pula benih-benih keangkuhan muncul dalam diri kamu.
Mungkin terkadang kita merasa heran dengan seseorang yang suka ini itu yang baik ataupun tidak, namun semua itu hanyalah perbedaan konsep pandangan hidup. 

Aku memandang dunia ini dengan caraku sendiri, dan kamu memandang dengan cara yang berbeda, dari sisi yang berbeda.
Seiring dengan bertambahnya usia, kamu akan lebih menyadari dirimu, memandang hal-hal disekitarmu dengan lebih teliti.
Ketika kamu beranjak dewasa, banyak hal yang berubah, definitely.
Dari segi fisik, mental, pemikiran, cara pandang, gaya hidup, dan lainnya.
Seperti yang terjadi pada aku, banyak sekali.

-Berusaha mengenal diri sendiri.
-Mulai bersyukur atas apa yang ada sekarang.
-Mulai berlatih untuk selalu berfikir positif.
-Mulai meng-improve dan meng-upgrade setiap bagian yang sekiranya perlu diperbaiki.

Hidup memang tidak perlu dijalani terlalu serius.
Tapi kamu harus tahu dan mengerti, kapan waktunya untuk serius dan waktu berlelucon.
Kembali lagi masalah pandangan hidup, dimana dunia seketika penuh dengan peng-kritik yang bisanya cuma mengurusi hidup orang lain dan men-judge seenak yang kita mau.
Kamu bebas menjalani hidup kamu, tergantung cara pandangmu.
Aku disini hanya berbagi tulisan, jalan fikirku.

Ketika kamu merasa down, merasa jenuh, merasa muak dengan hidup ini, ketika jalan fikirmu tak lagi selaras dengan apa yang ada di sekitarmu.
Ingatlah satu hal, bahwa setiap bagian tubuh, jantungmu, lambungmu, otakmu, dan bagian-bagian terkecil yang bahkan selalu terabaikan, mereka bekerja gotong-royong tanpa henti demi kamu. Ketika kamu berfikir tidak ada seorang pun yang peduli kepadamu, baca kembali kalimat sebelum ini.

Hampir 20 tahunku jalani hari-hari di dunia, baru 2 tahun terakhir ini lah aku mulai mengerti tindak-tanduk dunia, mengerti bahwa hidup ini bukan sekedar bangun tidur hingga kamu tidur lagi. Hidup ini adalah kanvas putih yang harus warnai dengan warna dari dalam diri kamu yang sebenarnya, bukan hitam kelam, bukan pula kosong tanpa warna. 



Sunday, June 2, 2013

Curahan Hati di Hari Minggu

Siang para jiwa muda di manapun anda berada..

Berusaha untuk membangun self defense yang positif maka dari itu saya menulis disini. Hari-hari kemarin cukup penat, ternyata seperti ini toh rasanya dikejar deadline, kalender handphone nyaris penuh dengan isi deadline tugas dan hal-hal penting lain. Gini rasanya beberapa waktu tidur larut buat ngejain sesuatu, akibat dari SKS (sistem kebut semalam). Gini rasanya seharian berada di luar kamar dan sibuk dengan aktivitas tertentu. Gini rasanya menghadapi berbagai macam sifat dan tingkah laku orang, dimana kesabaran dan menekan keegoisan diri itu sangat diperlukan.

Intinya, saya belajar banyak di semester ini.. S-2 (min dua semester) sebelum mulai kalang kabut nyari tempat magang. Review sebentar yuk, semester pertama dimana penyesuaian dengan lingkungan yang sangat-sangat baru. Saat pertama kalinya merantau ke luar pulau, buat cari ilmu. Jujur kalau ingat saat-saat itu cukup bikin ga ngerti juga sama diri sendiri. Saya paling susah menyesuaikan diri kalau diantara orang-orang baru ada orang-orang yang saya tahu/kenal. Ga ngerti. Orang justru mencari orang yang sudah dikenal agar lebih mudah beradaptasi, tapi saya tidak begitu. Yah, saat mulai masuk kelas semester 1, kebetulan di kelas saya sendiri, belum ada yang saya kenal selain teman satu matrikulasi atau pun teman ospek, yang notabene tidak begitu dekat. Semester 1 saya mencoba bergabung di klub dance, namun hanya bertahan dua hari, karena tidak bisa membagi waktu antara latihan dan akademik. Saya juga memberanikan diri untuk daftar di BEM kampus, ikut training selama 3 hari, tapi tidak terpilih. Allah punya rencana lain, dan semester 2 cukup pendek, cukup terkejar-kejar dengan tugas, dimana semester pendek selalu menjadi semester yang paling buru-buru kesannya. Saat itu dimana saya belajar banyak tentang CV, interview kerja, presentasi, dan lainnya. Nothing special but i learn much. Semester 3, disini kelasnya cukup asik, meski ya kena kelas sisa berhubung telat enroll. Saat itu saya belajar banyak tentang "Job satisfaction" tepatnya HR thingy dan bagaimana psikologi sangat berpengaruh dalam pekerjaan. So far yang paling memorable dari semester tersebut ya subject itu. Semester 4, inilah rencana lain yang Allah atur. Tahun sebelumnya saya banyak berangan pengen ikut kepanitiaan ospek & farewell major, tapi gagal karena sesuatu dan lain hal. Rencana lain ini yaitu semester 4 saya lalui dengan belajar di brand new environment, di Busan South Korea. Kalo saat itu saya keterima di BEM, ataupun ikut kepanitiaan mungkin ga bakal tuh join program ini. Unforgettable memory deh pokoknya. Semester 5, ketemu lagi semester pendek, officially masuk tahun kedua di semester pendek. Kalang kabut lagi, seminggu ketemu subject masing-masing dua kali. I learn about Finance & Institutions and feel a bit cultural shock since i just came back from Busan and should adapt (once more) in this learning system. Semester 6 now.........

I learn a lot and try hard to change my bad behaviors, semester dimana saya belajar banyaaaak banget. Mulai dari awal semester saya niatin buat merubah beberapa hal :
1. Ga boleh ngeluh apapun yang terjadi
2. Positive thinking
3. Bersyukur
4. Apa yang bisa dikerjain, kerjain! 
5. Lebih berani
6. Ungkapin apa yang nge-ganjel di hati.
7. Jangan Egois
8. Jangan ikut2an ngatain orang.
9. Silent is Gold and better than bullshit & rubbish words.

Yah, mari kita kaji beberapa poin. Saya udah mencoba untuk tidak mengeluh, sesusah apapun tugas dan lain2 yang saya hadapi. Why? semakin ngeluh akan semakin capek, semakin sulit tugas yang kalian kerjakan.   Selalu liat sisi positif dari apapun yang terjadi, selalu berfikir optimis. Bersyukur, hal yang paling penting. Apapun yang kalian punya, siapapun dan dimanapun kalian, bersyukurlah. Jangan menunda, alhamdulillah semester ini niat untuk belajar semakin oke, meski masih perlu peningkatan di masa-masa mid term yang penuh godaan lahir batin. Jangan egois, yes. I learn a lot, jangan hanya mikirin perasaan kalian dan enak nya di kalian. Try to expand your responsibility but also help the other to expand their own capability. 

Hal yang paling susah menurut saya adalah poin ke 6. Terkadang saya merasa bersyukur dikala orang-orang di sekitar mood nya senggol bacok, mood saya justru bagus dan bisa di atur. Tapi, ketika saya merasa sedang di zona sensitif, saya tidak tahu apakah orang-orang di sekitar saya tahu itu atau tidak. Saya tetap diam berusaha menenangkan diri, membuang jauh2 aura negatif sampai hilang dengan sendirinya. Terkadang pula saya ingin mengungkapkan sesuatu yang saya kesalkan, tapi selalu saya tunda karena menunggu waktu yang tepat agar tidak menyinggung pihak lain. Setelah itu tidak lama kemudian, kesensitifan saya sudah hilang, dan kekesalan itu pun tidak terungkapkan. 



Saya tidak punya prinsip apapun mengenai hal ini, hanya saja saya tidak ingin menyakiti hati siapapun, mengingat peribahasa "karena nila setitik,rusak susu sebelanga" dan istilah "lidah itu lebih tajam dari mata pedang" 

Nah ada satu lagi yang perlu saya pelajari, be professional! dalam hal apapun.
Some points :
1. Setiap kepala punya jalan pikiran yang berbeda, berusaha punya prinsip, tapi tidak terlalu keras.
2. Be professional, yes.
3. Jangan egois & complain.

Semoga menjadi pelajaran juga bagi semuanya. Memang postingan saya cenderung muter-muter dan ga terfokus. Tapi selama bisa diambil pelajarannya, saya merasa senang. Sampai jumpa di postingan selanjutnya! - Sweet regards, UY.

Sunday, March 24, 2013

Flashback


Hello~ seperti biasa dengan randomnya nge-post disini, sebenarnya dari kemarin-kemarin pengen nulis tapi berhubung belum sempat online lewat PC dan lewat smart phone pun susah ya jadi sekarang sempat-sempatin mengisi kekosongan blog ini.. xp

Sudah seminggu sejak libur semester 5, dan sekarang aku sedang menikmati masa-masa bebas sementara di kampung halaman. Ketemu keluarga dan rumah tercinta rasanya ga ada yang lebih menyenangkan dari itu semua. Anyway aku belum cerita tentang pengalamanku di 2012 yang sangat luar biasa. Memang sekarang sudah 2013, tapi rasa-rasanya jiwa dan raga masih separuh berada di tahun 2012, cieee~~



Cerita dimulai..............................

Sekitar bulan Juni/Juli tahun lalu, saat aku masih di semester 3, saat itu ditengah mata kuliah Principle of Marketing, masih ingat banget. Dua Lecturers masuk ke kelasku dan memberi tahu informasi yang entah saat itu aku pikir penting atau baik atau bahkan not that exciting to me, karena udah pesimis duluan dan segala pikiran negatif menggerayangi diri aku. Informasinya adalah bakal diadain pertukaran pelajar ke BUSAN, South Korea. Ya, Busan, bukan Seoul. But, that's fine. Dengan nekadnya aku dan temanku nulis nama, berhubung kami berminat sekali buat ikut, modal nekad, nekad saingan karena cuma sekitar 5 orang yang bakal ikut dari jurusanku, nekad juga ngajuin proposal pribadi ke orangtua buat biaya dan segala macamnya secara tiba-tiba. Pada akhirnya aku memberanikan diri sms bokap, nanyain boleh apa ngga ikut begituan. Jedar jeder gabisa tenang sebelum sms dibales, taraaaaa ga disangka meskipun dibales agak lama jawabannya begini nih "boleh aja, asal Ulya nya siap." *brb jungkir balik sambil berkaca-kaca*

Pada hari kamis tepatnya lupa kapan, yang nulisin namanya waktu itu disuruh ke kantor dosen tersebut buat seleksi (mereka bilang sih seleksi,padahal mah ga gitu juga), aku dan beberapa temanku datang, jreeeeeenggg ternyata rame juga yang mau ikutan. Mana jurusanku paling banyak -__-"....oke, tenangkan diri, percaya diri, kalo rejeki ga kemana, kalo ga rejeki berarti ada rencana lain yang lebih baik, pokoknya udah mikir gitu deh. Saat itu kondisiku dimana problem terbesarnya itu ga ada paspor. Begitulah, saat ditanya satu persatu, mulai ciutlah karena yang ditanya cuma 3 hal: IPK,duit, sama lo punya paspor apa nggak, after that, cusss! berangkat deh lo. Udah deh, jurusanku udah 5 orang terpilih fix, berhubung jurusan 1 lagi cuma ada 4 orang, 1 orang dari jurusanku bisa ikut. Dan saat itu masih belum pasti siapa 1 orang yang bakal fix ikutan, dengan separoh pesimis separoh meyakinkan, aku bilang bakal bisa kasiin paspor di hari Senin. Entah aku ga tau harus senang apa sedih apa gimana, untungnya temanku memotivasi buat aku ga nyerah gitu aja. Untung saja, untung saja aku ngga sendiri. Setelah pertemuan hari kamis itu, aku langsung blank di perjalanan menuju resto dorm, dan nelfon nyokap apa bokap saat itu, bilang kalau paspornya senin harus udah dikasih. Saat itu nyokap bilang "susah dong dadakan begitu, ya udahlah jangan dipaksa" tapi bokap di telfon bilang "ntar minta tolong om mu aja, besok subuh cari tiket di bandara" jleb jleb, langsung dah malam itu dijemput om ku yang di Jakarta dan besok subuhnya berjuang cari tiket pesawat ke Pontianak mana musim libur pula...-_-" Alhamdulillah dapet tiket yang mahal bukan main padahal mah pesawat elek banget yah mau gamau berangkatlah ke Pontianak jam 7 pagi. Saat itu koordinasi antara ortu, aku, sama om tante ya bisa dibilang cukup oke lah, bahkan pake plan A plan B segala *gaya~~

Paspor beres dalam sehari, sungguh perjuangan yang ga bakal bisa dilupain, dan balik seminggu lebih awal dari jadwal liburan, bahkan tepat H-3 UAS. Hari Seninnya, ke management, nyerahin dokumen, duit sama paspor dan segala macam. Alhamdulillah, sampai hari itu semuanya lancar, meskipun aku masih belum percaya kalau aku bisa, aku masih mikir bakal ada yang duluin aku dengan IPK mereka yang lebih oke dan dokumen mereka yang udah diserahin duluan. Aku masih blank, jujur. Setelah itu, keesokan harinya aku berusaha konsen dengan final exam.

Selesai exam, aku pulang ke Pontianak lagi, dan kali itu liburnya cukup lama, sekaligus libur puasa dan lebaran, setelah itu kami langsung terbang ke Korea. Sampai pada hari-hari liburan pun jujur, aku masih belum begitu percaya, biar kata berkas-berkas Dong-A University sudah ditangan, apapun bisa terjadi. 
Sampai pada hari dimana kami dapat email pertama dari dosen, yang nyampein kalau visa kami sedang diurus dan ditentuin tanggal keberangkatan kami,yaitu 31 Agustus 2012. Saat itu 90% ter-charge kembali ke-optimisanku. Hari-hari liburan, sekaligus bulan puasa aku dan ortu mempersiapkan barang-barang packingan buat 4 bulan. Anyway, kami exchange selama kurang lebih 4 bulan, dari bulan September-Desember. 

Mungkin bersambung dulu sampai disini, biar ada bahan buat posting selanjutnya. Oh iya, sekarang libur semester 5, dan ga kerasa next semester udah semester 6 aja, minus 2 semester lagi bakal internship. I wish nothing but the best to be a successful person and get title "Bachelor of Economic Science" soon..